Want to say,,

Welcome to my blog

Selasa, 12 Juni 2012

Soft Skill

Bhinneka Tunggal Ika sebagai Implementasi Wawasan Nusantara

Wawasan nusantara adalah wawasan nusantara sebagai geopolitik Indonesia, yaitu cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya yang serba beragam dan bernilai strategis dalam mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dan tetap menghargai serta menghormati kebhinekaan dalam setiap aspek kehidupan nasional untuk mencapai tujuan nasional.

Wawasan nusantara merupakan wawasan nasional yang bersumber dari pancasila dan berdasarkan UUD1945 yaitu cara pandang dan sikap mengenai diri dan lingkungan bangsa Indonesia dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa, serta kesatuan wilayah dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Secara prinsip bangsa Indonesia adalah Negara kesatuan berlandaskan pancasila, sedangkan keanekaragaman ras, suku, agama, dan bahasa daerah adalah khasanah sebagai pemersatu bangsa (Bhineka Tunggal Ika).

Seperti telah kita ketahui Negara kita tercinta ini, “Indonesia” terdiri dari pulau-pulau yang membentang dari Sabang hingga Marauke. Oleh karena itu, Indonesia memiliki berbagai ragam budaya, bahasa dan keunikan lainnya yang tidak dapat ditemui dinegara manapun. Maka semboyan “Bhineka Tunggal Ika” sangat cocok untuk negeri kita Indonesia ini “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.



 



Pada bagian bawah Garuda Pancasila, terdapat pita putih yang dicengkeram, yang bertuliskan “BHINNEKA TUNGGAL IKA” yang ditulis dengan huruf latin. Bhinneka Tunggal Ika adalah motto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa kuno. Diterjemahkan per patah kata, kata bhinneka berarti "beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Jawa Kuna berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata "aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti "satu". Kata ika berarti "itu". Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna yaitu, kakawin sutasoma karangan Mpu tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14 Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat hindu shiwa dengan umat Buddha Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap seperti di bawah ini:
Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.
Terjemahan:
Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika ini dapat diImplementasikan sebagai wawasan nusantara dalam kehidupan sosial budaya akan menciptakan sikap batiniah dan lahiriah yang mengakui, menerima, dan menghormati segala bentuk perbedaan atau kebhinekaan sebagai kenyataan hidup sekaligus karunia sang pencipta.

Adanya implementasi tersebutakan menciptakan kehidupan masyarakat dan bangsa yang rukun dan bersatu tanpa membeda-bedakan suku, asal-usul daerah, agama (keyakinan), serta golongan berdasarkan status sosial.

Contoh kebhinekaan Indonesia:





Indonesia terdiri dari 17.580 buah pulau dengan luas keseluruhan hamper 2 juta KM2, tersebar disekitar khatulistiwa pada lintang 60 LU 110 LS dan 950 BT sampai 1410 BT.

Di kepulauan Indonesia banyak terdapat gunung berapi, sehingga membentuk lahan yang subur, udara yang sejuk dan panorama yang indah, sehingga dijuluki Zamrud Khatulistiwa. Pulau-pulau di Indonesia dihuni oleh sekitar 300 suku bangsa yang mempunyai bahasa, adat istiadat, rumah adat, teknologi, agama dan kepercayaan yang berbeda. Mozaik budaya di hamparan khatulistiwa ini merupakan potensi besar untuk dikembangkan.
      
Indonesia merupakan bangsa yang penduduknya bersifat majemuk atau beragam ( bhineka). Kebhinekaan tersebut dapat dilihat dari dua sudut, sebagai berikut : 

1.      Secara Horizontal
      A.     Perbedaan Fisik atau Ras
Penduduk Indonesia terdiri dari golongan papua melanesoid  yang berdiam dipulau papua, kai dan aru, mempunyai cirri fisik rambut keriting, bibir tebal dan kulit hitam. Golongan mongoloid berdiam disebagian besar pulau Indonesia, khususnya dikepulauan sunda besar  dengan cirri-ciri rambut ikal atau lurus, muka agak bulat, kulit putih sampai sawo matang. Selain itu, terdapat golongan weddoid dengan jumlah yang relative sedikit, seperti orang kubu, sakai, mentawai, enggano, dan tomuna dengan cirri fisik, perawakan kecil, kulit sawo matang dan rambut berombak.

B.     Perbedaan Suku Bangsa
Di Indonesia hidup tidak kurang dari 300 suku bangsa dengan jumlah penduduk tiap sukunya beragam dari mulai yang puluhan juta sampai ratusan. Suku yang banyak jumlah penduduknya adalah Jawa, Sunda, Dayak, Batak, Minang, Melayu, Aceh, Bali, Manado, Makassar. Sedangkan suku bangsa yang jumlah penduduknya sedikit, seperti Nias, Kubu, Mentawai, Asmat, Dani, Tobati, dan lainnya. Masing-masing suku bangsa mempunyai kebudayaan sendiri.

C.     Perbedaan Agama
Pemerintah Indonesia menjamin setiao warganya untuk menganut dan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Animism dan dinamisme adalah kepercayaan yang paling tua dan berkembang sejak zaman prasejarah, sebelum bangsa Indonesia mengenal tulisan. Agama hindu dan Buddha darang ke Indonesia dari india sekitar abad ke-5 SM. Agama islam dating dari Arab Saudi melalui india sekitar abad ke-7. Agama islam menjadi agama terbesar yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Orang eropa dating ke Indonesia pada awal abad 20, membawa agama nasrani.

D.     Perbedaan Jenis Kelamin
Perbedaan ini adalah sesuatu yang alami, tidak menunjukan adanya tingkatan. Anggapan superior (laki-laki) dan inferior (perempuan), adalah tidak benar. Masing-masing mempunyai peran dan tanggung jawab yang saling membutuhkan dan melengkapi.

2.      Secara Vertikal
Perbedaan yang menunjukan adanya tingkatan, dengan  adanya kualitas yang berbeda antara individu. Misalnya, secara kualitas ada orang yang berpendidikan SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Karena adanya perbedaan pendidikan dan keterampilan maka pendapatan akan berbeda. Ada yang berpendapatan rendah, sedang, dan tinggi.

Keanekaragaman suku bangsa bersatu dibawah satu kesatuan nusantara (nusa artinya pulau). Perbedaan (diversitas) melebur menjadi satu kesatuan ( integritasi ), kebhinekaan merupakan alat pemersatu ( ika ) bangsa dibawah naungan pancasila dengan lambing Garuda melalui semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Keanekaragaman suku bangsa menjadi asset nasional yang sangat berharga. Dalam Tap MPR no. 1 tahun 1993, menyatakan bahwa “salah satu modal dasar pembangunan adalah budaya bangsa yang dinamis yang telah berkembang sepanjang sejarah yang dicirikan kebhinekaan dan keesaan bangsa”. Sedangkan dalam GBHN 1999 dinyatakan bahwa “Negara kesatuan republic Indonesia dengan bertumpu kepada ke-Bhinneka-tunggal-ikaan, maka keberadaan dan kelangsungan bangsa harus diperkuat”.

Dari banyaknya perbedaan diatas, tentu harus membuat kita sebagai warga Negara Indonesia dapat saling menghormati, menghargai, agar terciptanya kerukunan. Wawasan nusantara dapat diimplementasikan kedalam segenap pranata sosial yang berlaku dimasyarakat dalam nuansa kebhinekaan sehingga mendinamisasikan kehidupan sosial yang akrab, peduli, toleran, hormat, dan taat hukum. Semua itu menggambarkan sikap, paham, dan semangat kebangsaan atau nasionalisme yang tinggi sebagai identitas atau jati diri bangsa Indonesia. Sampai saat ini empat pilar NKRI adalah : Pancasila, UUD 1945, Wawasan Nusantara, dan Bhineka Tunggal Ika.      

Sumber :
S. Sumarsono, Pendidikan Kewarganegaraan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hal. 92-93